rindu kami pada murninya air

26 Dec 2012

Untuk kalian yang belum pernah mengunjungi kalimantan selatan, pasti asing sekali dengan nama kecamatan kecil bernama “TAMBAN” bukan cuma mereka yang belum pernah ke Kalsel, bahkan warga kalsel sendiri tidak banyak yang mengenal tamban. pihak kepolisian banyak mengenal tamban sebagai tempat pelarian curanmor, alias para maling amatiran. sebagian warga seni banyak mengenal Tamban sebagai tempat artis dangdutan kelas menengah ke bawah, dan para pedagang banyak mengenal Tamban sebagai tempat penduduk yang konsumtif. Para penikmat kuliner/buah mengenal Tamban sebagai kebun nanas madu berkualitas terbaik.

Terlepas dari baik buruknya prasangka orang terhadap kecamatan Tamban, tapi disanalah tempatku di besarkan, dari SD-SMP tempat aku membentuk jati diri dan melewatkan masa beranjak dewasaku. Tamban ini lokasinya tidak terlalu terpencil, banyak akses menuju kesana, lokasinya pun tidak jauh dari kota Banjarmasin si Ibukota Provinsi Kalsel yaitu hanya 1-2 jam, namun tahukah kalian bahwa mereka yang disana, berpuluh tahun merindukan air bersih?

padahal faktanya, menjangkau Tamban itu tidak sulit, banyak jalan menuju kesana baik yang langsung melalui darat ataupun men ferry penyebrangan. lalu kenapa sulit mendapatkan air bersih? padahal daerah ini tidak terisolasi.

urat nadi kehidupan masyarakat Tamban terbesar adalah melalui sungai barito…

industri di sungai baritoindustri di sungai barito

Sedangkan tamban adalah wilayah yang menjadi percabangan sungai barito ini. sungai ini berhulu di Kalimantan Tengah dan berakhir di laut Jawa.

nah begini awal mulanya saya mengenal tamban. saya tinggal di Kecamatan Tamban kabupaten Barito Kuala dari tahun 1990, pada saat itu untuk sungai Barito tidak separah ini abrasinya, pencemaran pun tidak banyak. semua masyarakat bergantung di sungai Barito ini untuk MCK nya. di sepanjang sungai masih banyak pelabuhan-pelabuhan kecil yang masyarakat menyebutnya “batang” untuk tempat MCK mereka. mencuci pakaian, mencuci piring, buang air, mandi, semua dari situ. air disitu tidak pernah jernih layaknya air pegunungan, namun selalu keruh dan berlumpur, tidak pernah bersih karena sungai ini pun untuk sarana transportasi. kala itu akses menuju ke kota hanya 2 cara yaitu lewat sungai dengan kapal atau dengan ferry penyebrangan, namun akan sangat jauh sekali akses ke kota bila lewat darat bisa 2-3 jam itupun tidak banyak yang memiliki transportasi darat, saya ingat sekali dulu ketika bapak saya awal dinas kesana dan memiliki sepeda motor dinas di kejar-kejar oleh anak-anak disana, karena sepeda motor sangatlah langka kala itu. bila menggunakan sarana sungai dengan naik kapal cukup 45-60 menit menuju kota banjarmasin.

untuk minum biasanya kami mengandalkan tampungan dari air hujan atau menggunakan air sungai, di diamkan agar mengendap lumpurnya, lalu di pisahkan dengan lumpurnya, lalu air yang lumayan bersih tadi di beri tawas dan di tunggu beberapa hari agar bisa di rebus untuk di minum. kebayang kan bagaimana cara manual kami untuk mendapatkan air, anehnya meski sudah di pisahkan dari lumpurnya, air tersebut tetap saja berwarna kuning. tidak heran baju seragam sekolah kami semua atau pun semua yang berwarna putih tidak membutuhkan waktu lama menjadi kuning. Entah ini berpengaruh atau tidak, tetapi jujur saja tidak ada saya dan teman-teman saya yang giginya putih bersih disini, saya tidak tau apakah ini pengaruh dari air yang kami gunakan sikat gigi ini atau tidak.

ada kalanya dalam setahun ketika musim kemarau, air sungai surut, masuklah air laut di sungai Tamban, maka air sungai tidak bisa kami gunakan. Rasanya asin, untuk mencuci pun tidak berbusa, untuk mandi lengket, karat-karat muncul di kapal-kapal dan tiang-tiang rumah di bantaran sungai menjadi kecoklatan. bila masa itu tiba, sumur-sumur penduduk menjadi rebutan untuk air minum yaitu penduduk yang rumahnya di daratan, bukan di bantaran sungai. namun air tersebut juga tidak tawar melainkan hambar bahkan kadang lebih dominan campuran air asin nya, masyarakat biasa menyebutnya air “Hanta”. penjual-penjual air dari banjarmasin dan daerah-daerah lain yang memiliki pdam lalu lalang di sungai. hanya dengan lambai-lambai tangan maka kapal-kapal kelotok penjual air akan merapat. biasanya air di jual bukan perliter, namun menggunakan satuan wadahnya, misalnya per-drum, per- tajau (gentong besar seperti keramik) atau per-bak. beruntunglah orang-orang seperti saya dan orang-orang lain yang mampu membeli air bersih dengan mudah.

tidak semua orang Tamban berprofesi PNS seperti bapak saya. walaupun bapak saya waktu itu hanya PNS biasa dengan gaji pas-pasan, namun di Tamban, profesi bapak saya tergolong profesi orang mampu, selain para pedagang tentunya. profesi lain umumnya hanya petani sawah, berkebun, nelayan kecil, yang sulit untuk membeli air bersih, yang hanya memiliki uang berlebih saat panen tiba sekitar 1/3 akhir tahun. sedangkan musim kemarau biasanya berlangsung di awal tahun ketika musim tanam padi. untuk warga yang sulit membeli air bersih, biasanya hanya bisa membeli air bersih per-ember, atau menampung air tawar sebanyak-banyaknya di rumah mereka sebelum masa kemarau tiba atau menggunakan air sumur warga tadi hanya untuk minum, sedangkan untuk mencuci dan mandi mereka tetap menggunakan air asin tadi. tidak heran masayarakat kurang mampu biasanya cenderung lebih banyak terkena penyakit kulit. saya pribadi yang melewatkan masa anak-anak hingga remaja disana, biasanya di suruh orang tua untuk tetap mandi air asin untuk mandi demi menghemat air bersih, sampo dan sabun tidak mau berbusa namun tetap kami pakai baru setelah mandi kami menggunakan beberapa gayung air tawar untuk membilas badan menetralkan air asin tadi.

tahun demi tahun berlalu, saya telah meninggalkan Tamban sekitar 12 tahun lalu, pemerintah melakukan pembenahan, kini tempat buang air di pinggir sungai sudah mulai berkurang, bukan berarti habis, karena masih banyak penduduk yang tinggal di bantaran sungai membuat WC dengan pembuangan akhir ke sungai, namun posisi nya tidak di Batang lagi melainkan di dalam rumah mereka. sekarang akses dari tamban menuju kota sudah banyak, karena banyak titik-titik ferry penyebrangan yang dekat, masayarakat sudah memiliki sepeda motor dan mobil, pendidikan masyarakat sudah mulai tinggi, kesehatan membaik. namunnnnn….ada 1 hal yang masih belum berubah yakni sulitnya mendapatkan air bersih. sekarang di tamban ada PDAM, namun sumber airnya masih menggunakan air dari Sungai Barito, walaupun sudah di proses warnanya tetap berwarna kuning, dan lagi-lagi yang bisa memasang pdam hanyalah orang-orang yang tergolong mampu oleh masyarakat. yaitu segelintir PNS dan orang-orang yang di anggap berpenghasilan lebih. sekarang ada beberapa depot air minum isi ulang, namun tidak banyak, mungkin ada 1 tiap 2 kilometer sedangkan Tamban memiliki Luasnya 152,91 km kebayang gak sih?? lagipula gak semua masyarakat disini memiliki galon untuk isi ulang, pasti masih banyak mereka yang memilih untuk merebus air untuk minum daripada isi ulang. dan kebiasaan untuk memaksakan diri MCK dengan air asin kala kemarau pun masih ada sampai sekarang loh…

mau liat bagaimana kondisi air di Tamban di akhir tahun 2012 ini?

parit percabangan air sungai di Tambanbatang tempat menimba airmengendapkan air untuk memisahkan dari lumpurair MCKbelasan tahun berlalu, air di Tamban masih tetap seperti itu. kalian lihat bukan bagaimana cara manual masyarakat memisahkan air dengan lumpur dengan mengendapkan di bak-bak penampungan air. kita hanya manusia, tidak akan bisa merubah air sungai seluas itu, tapi minimal kita membuka hati dan sejenak berpikir mencari ide bagaimana Jakarta yang langganan Banjir tapi orang-orang di daerah lain masih dengan masa pencarian air bersih. mencari sumber-sumber dari air lain selain sungai untuk di konsumsi dengan murah.

setelah saya melihat iklan Pure It yang versi air bekas rawa, sebenarnya saya terinspirasi seandainya di Tamban ada teknologi seperti itu yang bisa mengjangkau seluruh masyarakat. banyak hal bisa membaik di awali dengan air minum yang bersih dan sehat.

saya memang menulis ini untuk mengikuti lomba blog Pure It, namun juga saya berharap lewat tulisan ini akan ada pihak yang peduli terhadap perubahan air bersih di Tamban. Meskipun saya telah meninggalkan Tamban, desa itu memiliki banyak aset di bidang agro yang bisa di kembangkan, penduduknya yang ramah yang memegang teguh budaya tradisional membuat saya betah bergaul dengan masyarakat. dan saya berharap bagi kita semua yang tidak kesulitan air bersih, agar bisa lebih hemat air bersih, tidak jauh-jauh sampai ke papua atau pelosok terpencil, toh wilayah yang tidak jauh dari kota pun masih kesulitan air bersih.. saya bukan orang yang pandai menulis dan mengungkapkan suatu cerita tetapi paling tidak saya melakukan sedikit ’sesuatu’ untuk perubahan kampung saya tercinta. dan menginspirasi banyak orang agar menyayangi sumber daya alam kita yang satu ini, AIR.


TAGS tamban barito kuala share


-

Author

Ibu rumah tangga biasa yang suka nulis. Nulisnya juga suka-suka. Tidak fokus pada suatu topik/hobby. Tapi menulis apa saja yang sedang ada di pikiran saat itu. Tidak pernah ingin merasa paling benar dan tidak ingin disalahin. Ini tulisan saya. Jadi ya..suka-suka saya. Ga suka ya close tab saja.. :D

Follow Me